Pilkada Makassar, Jangan Manfaatkan Musibah Untuk Kepentingan Politik

by -15 views

Oleh: Syarifuddin Daeng Punna

Pesta Pilkada di Kota Makassar sudah mendekati masa pendaftaran di KPU. Eskalasinya mulai nampak, hingga beragam karakter menjadi orang dermawan pun dipertontonkan bagai atraksi yang mulia.

Sifat itu terbentuk dengan cara alami, maka tampil apa adanya itu lebih berintegritas ketimbang memaksakan diri untuk menjadi orang dermawan sementara masyarakat sudah tahu siapa calon yang dianggap baik tanpa modus membantu ketika ada kejadian atau musibah seperti kebakaran, busung lapar dan lain lain.

Sah-sah saja seorang calon walikota membantu masyarakat, tapi harus ada komitmen yang berkelanjutan ketika terpilih nantinya dapat terus berbuat kebaikan, membantu masyarakat kecil, mengunjungi mereka di waktu-waktu senggang.

Salah satu contoh sederhana, waktu pileg 2019. Seorang calon legislatif rajin mendatangi majelis-majelis ta’lim bahkan ada seorang sahabat yang curhat bahwa dulu ada caleg dari salah satu partai politik intens mengunjungi majelis ta’lim yang ada di Jl Sungai Pareman, namun setelah terpilih sebagai anggota DPRD tidak pernah lagi datang mengunjungi masyarakat.

Hal tersebut merupakan contoh yang membuat masyarakat antipati atas sikap oknum yang tidak pandai berterima kasih, setelah di dukung dan terpilih lalu menghilang tanpa jejak.

Pada dasarnya orang yang dermawan itu tergerak hatinya membantu sesama tanpa memanfaatkan momen seperti pilkada, kalau mau membantu kemanusiaan tidak mengikutkan embel-embel calon walikota karena publik akan menilai perilaku tersebut.

Sebagai calon pemimpin banyak cara untuk mensosialisasikan diri tanpa harus memformat dirinya sebagai orang yang peduli kemanusiaan, olehnya itu SAdAP mengingatkan para calon agar tidak terobsesi menjadikan musibah yang dialami masyarakat dengan menampilkan simbol-simbol calon tertentu untuk meraih simpati.

Jangan memanfaatkan musibah dan penderitaan masyarakat. Berbuat baiklah tanpa ada kepentingan politik. (*)