Belajar Daring, SAdAP Nilai Pengaruhi Mental Siswa Ketagihan Main Gadget

by -24 views
PR – Syarifuddin Daeng Punna tokoh masyarakat Sulsel di Jakarta mengungkapkan kekecewaannya terhadap sistem belajar daring yang diterapkan selama masa pandemi covid 19.
Menurutnya, sejumlah orang tua siswa kecewa dengan metode belajar daring yang diterapkan kepada anak didik yang masih duduk di bangku sekolah dasar, pasalnya diusia yang masih terbilang kategori kanak-kanak ini pembentukan karakter anak dari segi kognitif, afektif dan psikomotorik tidak maksimal jika dilakukan melalui belajar online.
“Perlu saya tekankan bahwa anak didik yang masih berusia dibawah 10 tahun sangat mudah terkontaminasi dengan lingkungan sekitar dan tentu dapat mempengaruhi mental anak jika tidak di lakukan pengawasan secara ketat,” tegas SAdAP sapaan akrab eks bakal calon Walikota Makassar.
Penerapan belajar online selama masa pandemi ini mulai banyak memunculkan masalah, dan mayoritas dari masalah tersebut, korbannya adalah anak didik yang masih duduk dibangku sekolah dasar, mentalnya rusak, indera penglihatan bermasalah dan yang paling massif adalah kecanduan dengan gadget.
SAdAP menilai metode yang diterapkan dalam belajar online sudah tidak efektif lagi, tidak mengedepankan sisi kemanusiaan serta tidak adanya langkah antisipasi terhadap dampak yang ditimbulkan agar tidak meluas.
“Kasihan jika anak anak kita terdidik dengan cara seperti ini mental dan karakter mereka dibentuk oleh teknologi, apalagi di usia yang masih muda 6 -10 tahun masa dimana anak anak didik harus di gembleng secara produktif dalam memahami lingkungan sekitarnya dan pergaulan yang mengedukasi,” tuturnya
SAdAP berharap menteri pendidikan dapat menelaah kasus yang terjadi di setiap daerah dan mengkajinya agar diketahui solusinya, jangan hanya sekedar mengimput masukan tanpa melihat fakta dilapangan seperti hal seorang anak putri mengalami kebutaan di Kabupaten Gowa yang diliput medsos beberapa hari lalu dimana seorang anak mengalami kebutaan akibat radiasi.
“Kalau tidak sanggup memberi solusi, sebaiknya mundur saja dari jabatan sebagai menteri dan fokus mengurusi perusahaan bisnis pak menteri,” pintanya.
SAdAP juga meminta agar DPR RI memanggil menteri pendidikan Nadiem Makarim untuk mempresentasekan dampak dari kebijakan belajar daring ini, terkhusus bagi anak didik yang masih di bangku sekolah dasar bila perlu mereka diberi dispensasi untuk tidak mengikuti belajar daring sampai batas waktu berakhirnya masa pandemi ini , bisa dilakukan dengan pembagian siswa belajar untuk setiap kelasnya.
“Harapan saya usulan opsi yang kami maksud perlu dikaji secara continue dan DPR RI harus segera mengevaluasi kinerja menteri pendidikan, sebelum penerapan belajar daring ini memberi dampak yang luas bagi perkembangan mental, karakter anak didik kita yang masih di bangku sekolah dasar,” pungkas SAdAP. (*)